Menulis dan membaca mungkin menjadi sebuah hal yang saat ini mulai jarang dilakukan oleh umat Islam. Hal ini terlihat di sekeliling kita, generasi umat Islam saat ini justru jauh dari yang namanya membaca dan menulis. Aku lebih suka menyebut generasi saat ini generasi bermain. Ya karena mereka lebih suka bermain game, bermain gadget, bahkan sampai bermain cewek. Naudzubillah.
Sebagai dampaknya dalam sehari kita pasti menemukan terlalu banyak pemuda pemaki maki tanpa solusi, tong kosong nyaring bunyinya, penambah masalah bukan pemecah masalah. Hal ini mungkin kalau sampai terdengar sama Rasulullah saw bisa membuat beliau bersedih :(
Permasalahan diatas mungkin cukup rumit namun sebenarnya solusinya cukup simple, Belajarlah Sastra. Iya sastra atau lebih tepatnya membaca dan menulis. Dengan membaca kita akan memahami bahwa dunia itu luas dan kita akan faham atas segala kekurangan kita sebagai seorang hamba-Nya. Dengan menulis kita akan menyampaikan pemikiran-pemikiran brilian kepada dunia. Hingga pemikiran-pemikiran itu akan mengangkasa.
Dahulu ada seorang pria berasal dari Jazirah Arab. Ia pergi untuk mencari ilmu kepada seorang guru. Setelah menempuh perjalanan yang panjang, akhirnya sampailah ia di sekitar rumah sang guru yang dituju. Pria ini kemudian berjalan menuju ke sebuah rumah. Disana ia bertemu dengan seseorang, ternyata orang itu pengawal sang guru. Akhirnya diantarkanlah pria tersebut menuju rumah sang Guru namun hanya sampai depan pintu rumah dan pengawal berkata, "Tunggu saya akan meminta izin terlebih dahulu kepada guru".
Setelah selesai meminta izin, sang pengawal keluar dari rumah dan menghampiri pria tadi. "Guru meminta kamu menghafal dulu buku karyanya, nanti kalau sudah hafal baru kesini lagi" kata si pengawal. Pria yang dari tadi menunggu pengawal ini tersenyum dan berkata, "Aku sudah hafal buku tersebut disini" sambil memegang kepalanya. Singkat cerita akhirnya sang guru mengizinkan pria tersebut belajar dari nya. Pria tersebut adalah Imam Syafi'i dan sang guru adalah Imam Malik. Imam Syafi'i pun mampu menjadi mufti besar Mekah ketika berusia 15 tahun masyaa Allah.
Sungguh luar biasa bukan kehebatan Imam Syafi'i. Sudah hafal 1 buku sebelum belajar dengan gurunya dan di usia sangat muda menjadi mufti besar mekah.. Coba generasi kita saat ini, baru belajar kalau mau ujian aja hehe. Generasi seperti Imam Syafi'i inilah yang perlu kita tumbuhkan saat ini. Generasi luar biasa yang mampu mengantarkan umat ke dalam lingkaran intelektual yang tinggi
Bersambung...

Eta mantep bat temen w satu ini huhu):
ReplyDelete